Sunday, November 17, 2013

Aku Bukan Tukang Ojek



‘Anom lama banget. Dandan dulu kali ya’, kata aryan yang tampaknya sudah bosan di atas motornya. Kala itu di suatu sore, di pinggir jalan raya kita berdua celingak-celinguk menunggu Anom selama hampir satu jam lebih. Ketauilah kawan, kegiatan berdua bersama teman lelaki di pinggir jalan dengan waktu yang lama, dapat dicurigai sebagai pasangan homo yang tersesat.

Bersama tampang lusuh, saat itu kita kering menunggu Anom di atas motor masing-masing. Belum lagi kondisi pantat yang kayaknya udah peang sebelah karena duduk kelamaan. Gue, sih, curiga, kayaknya pantat Aryan malah udah gondok tiga biji.

Sebenarnya, sih, gue udah gak heran kalo nunggu Anom lama kayak gini. Anom adalah seorang teman yang terkenal teliti dalam hal apapun. Bukan, Anom bukan hasil dari peranakan Hanoman. Dia benar-benar temen gue. Dan dengan bernama Anom, bukan berarti juga dia memiliki singkatan: “Anom… Anak Ompong”.
Dia gak ompong, melainkan lelet. Ketelitiannya ini sungguh dapat menimbulkan efek lambat dalam hidupnya. Dan ini, sungguh membuat orang yang nungguin dia bisa mati kekeringan sambil ngarep si Anom… mati ompong!!!

Disaat hari semakin sore dan kita semakin suntuk: Aryan bosen main handphone, dan gue bosen main tanah. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian rapi dengan potongan rambut klimis datang menghampiri kita. Bukan, dia bukan Anom. Anom jarang tampil rapih seperti ini, kecuali kalo dia habis jadi instruktur karaoke.

‘Mas’, kata lelaki rapih ini. Suaranya terdengar tegas.

Gak mau kalah keren, gue pun berusaha tampil cool. Gak ada pilihan, gue gak mau disangka pasangan homo tersesat. Dan kalo si lelaki rapih ini ternyata mau nyulik, gue juga udah punya Aryan yang siap gue lempar kapan aja.

Untuk mendukung kondisi cool, yang harus gue lakuin adalah: Dada gue busungkan, alis sok gue naikin, muka? gue rehap abis. Gue bikin tingkat!
Dengan kondisi seperti ini, dia pasti menyangka gue adalah lelaki cool semacam bos-bos muda kantoran.

‘iya, mas…’, kata gue sambil mendadak membusungkan dada. Melihat ini, terlihat sekali langkah mas-masnya mundur satu langkah.
‘Yes, gue berhasil’, kata gue dalam hati. Mungkin yang gak gue tau, kayaknya dia mulai curiga kalo gue mau netein dia.

‘Kenapa ya?’, kata gue melanjutkan.

Belum sempat gue menaikan alis untuk tampil lebih cool, tiba-tiba si mas-mas biadab ini ngomong,

‘ojek dong, mas. Ke PLN ya…’, gue bengong lama banget. Ini sejak kapan gue jadi tukang ojek?! 

Beberapa detik kemudian, tanpa aba-aba dan tanpa gue suruh, gak tau kenapa si mas-mas ini mendadak bernafsu mencoba naik ke jok motor belakang gue. Kondisi mendadak heboh. Gue panik. 

‘loh... loh... loh... mas! Saya bukan ojek, mas. Bukan ojek! Ahhhh!!!’, seru gue sewot melihat mas-masnya nekat mau naik.

‘gak apa-apa, mas. Saya bayar kok’, mas-masnya gak kalah sewot sambil ngangkang-ngangkang.

‘loh...loh...loh. Enggak mas, makasih!’

Kampret! Ini gue lagi diculik atau gimana!? Gue bukan tukang ojek, woi!
Keadaan yang semula heboh, kini berubah rusuh dan liar. Aryan? Dia mangap ngeliatian gue. Mungkin yang ada dipikirannya cuma satu, ‘kayaknya gue salah milih temen, deh’.

Sebelum keadaan semakin heboh, tanpa pikir panjang, gue bergegas mengajak Aryan ngibrit mencari tempat aman. Kita kabur dari mas-mas biadab ini.
5 menit kemudian, hidup gue terjamin, gue masih punya masa depan. Gue gak jadi tukang ojek. 
 
Semenjak hari itu lah gue agak bermasalah sama yang namanya nunggu orang di pinggir jalan. Tapi entah kenapa, untuk satu hal ini, gue semacam rela untuk menunggu seseorang yang lain. 

Iya, nunggu “dia…” yang masih gue harapkan. Hihihihik.

6 comments: