Thursday, October 24, 2013

Bukan Buku Tahunan

Langsung aja.

Salam kampus rahasia (Daerah jtw, depan kios kostum bola, samping warung rokok, deket tukang ketoprak, deket sevel, sebelahnya lagi ada tukang nasi goreng... sembilan ribu sama telor plus mie, daerah situ jarang cewek cakepnya).

Sebuah iseng-iseng buat kalian,


#Kami bukan musuh Bima.

Ini dia,





Sorry agak bencong, terakhir denger lagu metal udel gue mimisan satu liter.

**

Di bagian akhir ini, Gayuh sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin. Semoga masa depan kita ciamik, yo.  Amiin.

Salam kampus rahasia. Nuna’nunu... nuuuu!

Sunday, October 20, 2013

Gue dan Beberapa Hal Aneh



Dua-tiga tahun yang lalu, gue mendadak mangap ketika ada liputan di televisi yang memberitakan tentang persidangan aneh. Gimana gak aneh, persidangan ini menghadirkan saksi seorang... oke, bukan seorang. Maksud gue, seekor. Iya, seekor anjing. JENJEEEENG! *Lagu opening naruto berkumandang*

Pertanyaannya, ini gimana caranya si anjing bersaksi? Ngejelasinnya gimana? Kalo gue jadi anjingnya, yang ada gue bete, kalo bisa malah pura-pura amnesia.

Menurut pak hakim yang bersangkutan, dia juga merasa puas dengan kesaksian si anjing ini, yang menurutnya telah membantu dengan memberikan sinyal-sinyal penuh arti. Uhhh, sinyal-sinyal penuh arti. Gimana kalo si anjing ini semaput, apa iya si pelaku berarti membunuh sambil semaput? Atau kalo ternyata si anjing ini kutilan, apa iya si pelaku ini berarti suka membunuh dengan mencolokan kutil ke korbannya? Atau mungkin yang lebih ekstrim: Si anjing ini semaput, kutilan, dan gak lama... suka mencret.

Harapan gue, semoga pak hakim enggak menyimpulkan bahwa si pelaku melakukan pembunuhan dengan cara semaput, mencolokan kutil, membidik, dan... CRET! Korban tewas dengan luka mencret di sekujur muka. Uhhh.

***

Bicara tentang “aneh”, belakangan ini gue suka melihat hal yang aneh-aneh, bahkan walaupun itu sebenernya biasa-biasa aja. Contohnya, setiap kali melihat sepasang kekasih di atas motor dengan posisi si cewek memeluk pacarnya: Dari arah belakang, awalnya gue berpikiran biasa aja, ‘hoo... lagi pelukan.’ Tapi, entah otak gue lagi keselengkat atau gimana, lama-kelamaan malah mikir, ‘wih... kayak orang lagi senam yoga’.

Setelah beberapa ratus meter dari pemikiran tadi, kali ini gue lagi bersama pacar di sebuah mal di bilangan bekasi. Pacar gue? seperti biasa, sebagai wanita yang cukup lama berdandan, dia selalu ketuker sama bidadari-bidadari di film. Beda sama gue, sebagai pria yang selalu asal-asalan setiap dandan, gue selalu ketuker abang-abang somay. Beruntung, si pacar selalu sabar dan memaklumi mengasihani muka gue. Kalo enggak, mungkin dia udah bisa teriak, DASAR! MUKA GAK TAU ATURAN! PANAH MUKAMU... PANAH!!!’

Sebelum pacar sadar dan muka gue kecoklok panah, sekarang gue ada di sini. Duduk berdampingan di salah satu tempat makan bersama dia... bidadari gue. Hohohok.

Dengan sesekali bermain handphone, sang pacar duduk cantik di depan gue. Sedangkan gue, sibuk “membantai” sepotong ayam goreng sambil sesekali memperhatikan sebuah keluarga kecil yang duduk gak jauh dari posisi gue sekarang.

Sebuah pemandangan yang lumrah, dimana jika ada sang bapak dan sang ibu yang lagi asik makan, maka di situ pula biasanya ada beberapa anak kecil yang berhamburan sambil teriak-teriak horor. Kalo dilihat-lihat, keluarga kecil ini memang tampak kerepotan dalam mengawasi anak-anaknya. Anaknya hipertensi banget. Oh... sorry, maksud gue hiperaktif banget. Mereka botak, lari kesana-kemari, teriak-teriak. Heboh. Sekilas, mirip deodoran lagi mosing.

Di samping anak-anak yang hiperaktif ini, perhatian gue kini juga tertuju pada sang suami. Iya, sang bapak dari deodoran-deodoran mosing ini. Yang menjadi perhatian gue di sini, bukan karena si bapak ini mirip mat somat atau sekedar punya bulu hidung yang menjulur keluar semacam taring hitam, tapi lebih karena posisi duduk si bapak ini yang gerak-gerak aneh dari tadi. Awalnya gue berpikir, ‘ah... paling hanya membetulkan posisi duduk aja’. Atau, ’ah... paling bokongnya lagi kesemutan’. Atau, ‘ah... paling dia boker’.

Oke, kalo ternyata yang terakhir benar, gue reflek salto, gue sepak bokongnya, gue colek bulu hidungnya, gue teriak, ’WOI, SALES TRAKTOR! BOKER DI WC, DOOOONG! GAK GITU JUGA KALIII!’ jiwa gue mendidih, gue emosi, muka gue bar-bar. Gak lama? gue kabur pontang-panting nyari pintu keluar. Gue ngumpet di goa, pacar pesan tiket pesawat. Dia liburan ke bali.

Tadinya gue mau bilang ke pacar soal gerak-gerik aneh ini, tapi karena lebih takut disangka mata keranjang baskom, gue nelen ludah aja pas ngeliat muka pacar. Sampai akhirnya, tidak sampai hitungan ketiga, di tengah keramaian tempat makan, di sela-sela ayam goreng yang masih gue makan, tiba-tiba aksen si bapak berubah. Dia bermuka keras, tampak mengambil aba-aba, menarik nafas dan... si bapak heboh menggesekkan bokongnya di atas kursi kayak orang kesetrum. Gue? mangap gede banget.

Ini dia menandakan area kekuasaanya atau gimana?! Kalo si bapak goyang ngebor, oke deh! Tapi kenapa tiba-tiba gini?! Gue gak terima! Gue belum siap digoyang.
Ngomong-ngomong soal goyangan, gue curiga kalo ini varian goyang dangdut terbaru (Goyang dangdut terbaru: goyang itik + goyang trenggiling = goyang kejang-kejang).

Setelah kejadian yang membuat gue mangap, dengan satu gerakan dari sang istri di kursi sebelahnya, si bapak ini langsung canggung saat istrinya menengok ke arah dia. Dari gerak mulut istrinya gue bisa menebak kalo dia bilang, ‘lagi kenapa?’, diirigi gerak mata yang memperhatikan posisi duduk suaminya.

Mungkin kalo sama istri sendiri bisa, deh, buat ngaku yang aneh-aneh. Tapi, gimana kalo hal itu kejadian sama gue. Aksen muka nyolot, duduk di depan pacar, agak bermuka gembel, tiba-tiba maju-mundurin bokong dengan brutal. Astaga. Kalo udah kayak gini, mau berusaha sekeren apapun, bahkan sambil naik naga merah, tetep aja bikin pacar ilfeel.

Apa iya gue mesti bilang, “Oh... gak apa-apa, kok. Kamu tenang ya, di bokong aku emang suka ada yang diem-diem nyebokin, gitu”. Lima detik kemudian? Pacar ilang. Dia kabur, bikin pertahanan militer di rumahnya.

Sekitar pukul 8 malam, keluarga aneh itu sudah pergi dari tempatnya. Mungkin si bapak mulai agak curiga kalo ada yang diem-diem nyebokin dia. Sedangkan gue, baru selesai makan dan bilang dalam hati, ‘semoga besok gak ada yang lebih aneh dari ini’.

Beberapa hari kemudian, di jalan sepulang dari kampus, gue liat tulisan gede banget:

"SUNAT MODEREN. TANPA PERBAN, TANPA JAHIT, LANGSUNG AKTIFITAS."

Ini disunat jin atau gimana?!

Kayaknya gue lagi diselimuti hal-hal aneh nih. Atau, pola pikir gue aja yang aneh-aneh. *Usap bokong*