Friday, September 20, 2013

Fix You...

Postingan kali ini diambil dari status jejaring sosial gue: @mahardikagayuh/facebook Gayuh Gustia Mahardika.

Gue bikin dalam bentuk gif, ya.
Here we go. 




Untuk yang gak nyaman sama gif-nya, ini gue tulis ulang:

  • Aku gak perlu makan mie instan kan, untuk bisa update rasa kamu ke aku?
  • Diputusin sih emang enggak, cuma gak mau di ajak serius.
  • Hujannya sama kayak kamu ya, sama-sama bikin aku nunggu.
  • Menghadapi macetnya Jakarta itu, semacam terjebak kangen kepada kamu. Selalu sulit untuk dihindari.
  • Kayaknya aku harus sehebat hujan untuk menggangu disetiap kencan kamu... sama dia.
  • Dia putus, gue gak tahu. Dia jadian, gue tahu. Iya, sebuah rumus cinta yang gak pernah ketemu.
  • Cinta kamu kok lama-lama gampang "lowbat", sih?! Hati kamu "bocor", ya???
  • PDKT ke kamu. Maaf, ada kisi-kisinya gak???
  • Jika diketahui nilai malam minggu adalah berantem, maka nilai galau adalah... gak jadi ketemu.

  • Kalo aja cinta kayak lampu merah, dimana gue akan selalu tahu kapan jalan terus, hati-hati, bahkan juga berhenti.
  • Sampai di sini...
  • Dicari:
  • Hati yang gak lemah...
  • Gak gampang galau...
  • Dan gampang lupa sama mantan.

***

Selanjutnya, di akhir scroll akhir ini, sebuah lagu Coldplay yang gue suka dari dulu, gue persembahkan untuk menjadi penutup kali ini.


Sampai jumpa di postingan selanjutnya, teman.



*Gambar: goolge.com
*Video: youtube.com (maaf, gue ambil yang versi "lirik")


Tuesday, September 10, 2013

Gaul

Duh, kesel bingit gueh! Kesel bingit!

Yak, itulah sebuah kalimat yang belakangan ini lagi sering-seringnya gue baca di beberapa situs media social. Awalnya sih gue cengo bacanya.

Bingit? Apa sih bingit?!

Gue coba scroll mouse ke bawah, muncul kalimat bingit. Gue scroll lagi, muncul lagi. Gue keluar kamar, adek gue teriak-teriak: ‘BINGIIIIIT!’. Sempat berpikir kalo adek gue kena wabah bingit, gue lempar dia keluar.

5 menit kemudian gue dibakar nyokap.

Di tengah kesibukan para abg melafalkan kalimat bingit di status-status mereka, di lain sisi yang gue tau bukan bingit, tapi singit.

Duh, kesel singit gueh! Kesel singit! Gue singit! Gue singit, nih! Enak, nih!

Oke, mungkin beberapa detik aja gue update semacam ini, follower gue kembali ke jalan yang benar: Gue di unfollow sama semua temen gue. BBM gue dihapus, WhatsApp gue dihapus, rumah gue dilemparin kepala babi sama orang yang gak dikenal, yang terakhir tahi lalat gue berubah jadi pink (ini kenapa jadi horor begini!?).

Gaul. Ya, mungkin ini salah satu contoh kegaulan yang bisa gue lihat sekarang ini. Aneh? Ya... emang aneh. Gue ngomong bingit di depan kaca aja rasanya mau sobek muka, apalagi kalo ngomong di depan pacar. Belum sempat nyobek muka, udah disobek duluan sama pacar. Maklum, sejak kecil dia agak sensi sama muka gue. Udah gede, dia murka sama muka gue.

Setelah beberapa hari mabok bingit dan penuh luka sobek di bagian muka, akhirnya jawaban itu datang juga. Gue mendapatkan artinya dari dari sang pacar. Dan artinya...

Bingit=banget.  Asli, berita pemilu kalah penting sama ini.

Satu hal yang gue takutin dari sindrom gaul ini adalah dampak langsung ke adek-adek gue. Semenjak banyak tingkah gaul yang aneh-aneh, adek gue jadi semacam burung beo. Bukan, adek gue enggak bersayap dan berkepala kuning, tapi dia jadi semakin sering buat mengikuti kalimat-kalimat aneh macam bingit ini. Semakin sering gue denger dia ngomong bingit, semakin sering gue nyangka dia keselek lidah sendiri.

Punya adek yang gaul, mungkin akan membanggakan. Ya... selama gaulnya juga enggak aneh-aneh kayak tadi. Kalo gue sih akan bangga kalo adek-adek gue gaulnya bermanfaat. Misalnya kalo di rumah lagi mati lampu dan dia lagi gaul, maka gigi behelnya bisa direbut nyokap dan dijadiin senter. Atau mungkin kalo nanti ada yang ngeliat anak kecil pake behel dan digantung disebuah papan besar di pinggir jalan, itu berarti behel adek gue udah naik kasta jadi lampu sorot baliho. Ya pokoknya yang begitu-begitu, lah. Bermanfaat... dan gaul. Tapi gue pikir akan beda cerita kalo ternyata gaulnya malah yang aneh-aneh. (walaupun jadi lampu sorot baliho juga udah aneh, sih. Saking anehnya gak lama udah ada di On The Sp*t sebagai salah satu lampu sorot berbakat yang ada di dunia).

Gaul yang aneh-aneh di mata gue tuh kayak misalnya dia gaul dan mau balapan karung. Udah siap-siap start buat lomba, tiba-tiba dia mengangkat tangan dan teriak,

‘Maaf, saya enggak level balapan karung di lapangan macam ini. Saya mau balapan di sirkuit Kemayoran aja.’

Gak lama orang pingsan semua. Bau keteknya berkobar kemana-mana.

Iya, balapannya sih jadi, tapi baru lompat 1 meter dijamin udah ditabrak mobil balap gara-gara disangka bungkus ciki punya badan.

Ngomong-ngomong soal gaul. Belum lama ini, Amanda, adek gue yang paling kecil dan paling canggih seplanet mars tiba-tiba manggil gue dan ngomong dengan penuh jiwa gaul. Kali ini beda, bukan tentang bingit.

‘Mas, tau gak...’, dari awal dia bicara, perasaan gue udah gak enak. Dengan mulut yang kayak ikan lele dia ngomong, ‘Mas... akkuuh...bikin...geng...duooong.’ terlihat sekali bibirnya nyolot menyembul keluar. Gak kebayang kalo Manda lagi di dekat sungai. 5 menit aja dia mangap dan monyong, mungkin dia udah bisa diangkat mamang-mamang berkaca mata hitam di depan kamera dan mereka teriak kompak, ‘MANTAAAP!’

‘Geng? Geng apaan?’ kata gue sembari curiga kalo dia ikut geng motor. Oke, karena adek gue masih kelas 4 SD dan dia belum bisa naik motor. Gue ralat. Mengingat dia hoby nangis di rumah, mungkin curiga gue bisa lebih singkron dengan berpikir kalo Manda ikutan geng nangis dengan nama: Asosisasi Cengeng atau biasa disingkat dengan ACENG!

‘Iya, geng. Tadi kita ngeteh-ngeteh. Terus ada yang dikeluarin dari geng gara-gara dia enggak setia’. Lanjut Manda heboh yang kali ini diiringi kemangapan gue yang lebih mencerminkan biangnya lele. Dalam hati: Ini beneran?! Adek gue bikin geng? Terus ada yang dikeluarin? Gara-gara gak setia??? Belum sempat gue berpikir manggil nyokap untuk teriak kalo anaknya udah masuk geng aneh, dengan satu hentakan kalimat, ‘uhhh... KEREN KAN, MASSS?’, kata Manda penuh kemangapan mulutnya yang luar biasa.
Melihat ini gue cuma bisa bilang, ‘iya... ya. Keren’. Kalah mangap? No no no, gue bukan takut kalah mangap. Cuma takut disangka gak setia dan Manda minta nyokap ngeluarin gue dari rumah.

Semenjak Manda heboh dan sibuk sama geng kompleknya, setiap kalo ada yang manggil Manda untuk main, bokap selalu komentar.
Gue sih pinginnya Manda diomeli karena main geng yang dikhawatirkan akan berubah jadi partai pesaing di pemilu nanti. Tapi, yang keluar dari mulut bokap adalah,

‘Manda. Ayo cepat, Itu dipanggil geng kamu’. Gue? pegang dinding, ngelirik ke atas tanpa kedip dan teriak,

‘WAHAI RAJA LELE!!! SEDOTLAH AKU!’

***
Oke, udah lama banget gue gak nulis. Hampir dua bulan lebih kali, ya. -_-
Kemarin-kemarin sih sempet nulis, tapi ya... gitu-gitu aja. Kalo dulu, abis pulang kuliah biasanya gue suka nulis sambil ngopi sampai pagi. Nulis... minum kopi, nulis... minum kopi, nulis... minum kopi. Gak lama gue yakin, kalo pup mungkin udah bisa keluar kopi satu renceng.

Dan sebagai penutup, sebuah foto Manda terbaru. Ini dia.

# Beberapa detik sebelum teriak bingit.
Oh iya, untuk postingan selanjutnya... kita kembali pada soal cinta ya.